Jumat, 15 Juli 2022

Scroll-Scroll Medsos: Kebiasaan Positif atau Negatif?

Sumber: Inibaru.id

Oleh: Faiz Alfa
 
Sekarang ini memang eranya medsos. Setiap orang sibuk dengan dunia maya-nya masing-masing. Salah satu lembaga survei menyatakan bahwa masyarakat Indonesia rata-rata menghabiskan waktu antara 5 sampai 9 jam perhari di depan layar smartphone. Dan kebanyakan penggunanya adalah kawula muda seumuran penulis. 

Rentang waktu antara 5 sampai 9 jam tadi, oleh anak muda tidak selalu digunakan untuk keperluan penting. Ada kalanya digunakan untuk berselancar di media sosial. Untuk mencari hiburan, berwawancanda dengan pengguna medsos lain, atau hanya sekadar untuk memenuhi kepuasan eksistensi pribadi.

Bahkan, kegiatan bermedsos adalah yang paling banyak memakan waktu. Membuat anak muda sekarang terlihat malas. Karena waktu berjam-jam tadi sebenarnya dapat diisi dengan kegiatan yang lebih produktif. Menyicil tugas-tugas yang diberikan dosen misalkan.

Masalah inilah yang kerap menjadi kegelisahan para golongan tua. Katakanlah mereka yang kelahiran tahun 80-an ke bawah. Mereka mengeluh tentang keseharian kaum muda seumuran saya yang “gaweane menceti HP” (kerjaannya memenceti HP) katanya. 

Kegelisahan mereka diperkuat dengan tersebarnya berita-berita negatif tentang penguna smartphone. Beberapa bulan lalu publik dibuat heboh oleh kabar tentang seorang pemuda yang mengalami gangguan mental akibat kecanduan gadget, dalam hal ini smartphone. Ada juga berita meninggalnya seorang remaja akibat kecanduan bermain game online. Sampai tidak makan dan tidak tidur berhari-hari. 

Namun yang perlu digarisbawahi adalah, bahwa fenomena orang-orang sibuk bermain media sosial adalah hal yang wajar. Mengingat media sosial baru ditemukan pada zaman sekarang. 

Jika kita mau menelusuri sejarah, tentang bagaimana penemuan teknologi baru sering memicu perubahan perilaku manusia, saya yakin kita akan memandang kebiasaan anak muda yang hobi scroll-scroll medsos sebagai suatu keniscayaan. Hal yang lumrah dan sudah sewajarnya terjadi pada zaman sekarang. 

Ambil contoh penemuan uang misalkan. Memang terlalu jauh, namun saya anggap paling mudah dipahami. Dulu, sebelum uang ditemukan, manusia mencari kebutuhan hidupnya di alam. Ketika barang yang mereka cari tidak ketemu, mereka akan mencari orang lain yang memilikinya. Lalu mengadakan transaksi dengan menukar barang miliknya—yang dibutuhkan orang lain tadi—dengan barang yang dia butuhkan (barter). 

Saat uang ditemukan, kebiasaan manusia berubah. Dari yang mula-mula mencari barang di alam sebanyak yang dibutuhkan saja, menjadi berlomba-lomba mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Dari penemuan uang itulah kemudian muncul sistem bank, kredit, simpan-pinjam, kapitalisme, dan lain-lain. 

Mereka, para golongan tua bisa bercerita dengan bangga kalau dulu, pada saat mereka muda orang-orang sangat ‘gapyak’, akrab satu sama lain, tidak ada orang yang ketika sedang berkumpul sibuk sendiri-sendiri. Ya soalnya dulu media sosial belum ada. 

Coba saja kalau misalkan pada masa itu media sosial sudah ditemukan. Atau misalkan masa muda mereka terjadi pada zaman ini. Saya berspekulasi mereka tetap akan terbawa arus “sibuk menceti HP”. 

Saling memahami, saling mengkritik secara santun adalah lebih baik daripada saling lempar-melempar hujatan.

2 komentar: