![]() |
| Sumber: Inibaru.id |
Oleh: Faiz Alfa
Sekarang ini
memang eranya medsos. Setiap orang sibuk dengan dunia maya-nya masing-masing.
Salah satu lembaga survei menyatakan bahwa masyarakat Indonesia rata-rata
menghabiskan waktu antara 5 sampai 9 jam perhari di depan layar smartphone. Dan
kebanyakan penggunanya adalah kawula muda seumuran penulis.
Rentang waktu antara
5 sampai 9 jam tadi, oleh anak muda tidak selalu digunakan untuk keperluan
penting. Ada kalanya digunakan untuk berselancar di media sosial. Untuk mencari
hiburan, berwawancanda dengan pengguna medsos lain, atau hanya sekadar untuk
memenuhi kepuasan eksistensi pribadi.
Bahkan, kegiatan bermedsos adalah yang
paling banyak memakan waktu. Membuat anak muda sekarang terlihat malas. Karena
waktu berjam-jam tadi sebenarnya dapat diisi dengan kegiatan yang lebih
produktif. Menyicil tugas-tugas yang diberikan dosen misalkan.
Masalah inilah
yang kerap menjadi kegelisahan para golongan tua. Katakanlah mereka yang
kelahiran tahun 80-an ke bawah. Mereka mengeluh tentang keseharian kaum muda
seumuran saya yang “gaweane menceti HP” (kerjaannya memenceti HP) katanya.
Kegelisahan mereka diperkuat dengan tersebarnya berita-berita negatif tentang
penguna smartphone. Beberapa bulan lalu publik dibuat heboh oleh kabar tentang
seorang pemuda yang mengalami gangguan mental akibat kecanduan gadget, dalam hal
ini smartphone. Ada juga berita meninggalnya seorang remaja akibat kecanduan
bermain game online. Sampai tidak makan dan tidak tidur berhari-hari.
Namun yang
perlu digarisbawahi adalah, bahwa fenomena orang-orang sibuk bermain media
sosial adalah hal yang wajar. Mengingat media sosial baru ditemukan pada zaman
sekarang.
Jika kita mau menelusuri sejarah, tentang bagaimana penemuan teknologi
baru sering memicu perubahan perilaku manusia, saya yakin kita akan memandang
kebiasaan anak muda yang hobi scroll-scroll medsos sebagai suatu keniscayaan.
Hal yang lumrah dan sudah sewajarnya terjadi pada zaman sekarang.
Ambil contoh
penemuan uang misalkan. Memang terlalu jauh, namun saya anggap paling mudah
dipahami. Dulu, sebelum uang ditemukan, manusia mencari kebutuhan hidupnya di
alam. Ketika barang yang mereka cari tidak ketemu, mereka akan mencari orang
lain yang memilikinya. Lalu mengadakan transaksi dengan menukar barang
miliknya—yang dibutuhkan orang lain tadi—dengan barang yang dia butuhkan
(barter).
Saat uang ditemukan, kebiasaan manusia berubah. Dari yang mula-mula
mencari barang di alam sebanyak yang dibutuhkan saja, menjadi berlomba-lomba
mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Dari penemuan uang itulah kemudian muncul
sistem bank, kredit, simpan-pinjam, kapitalisme, dan lain-lain.
Mereka, para
golongan tua bisa bercerita dengan bangga kalau dulu, pada saat mereka muda
orang-orang sangat ‘gapyak’, akrab satu sama lain, tidak ada orang yang ketika
sedang berkumpul sibuk sendiri-sendiri. Ya soalnya dulu media sosial belum ada.
Coba saja kalau misalkan pada masa itu media sosial sudah ditemukan. Atau
misalkan masa muda mereka terjadi pada zaman ini. Saya berspekulasi mereka tetap
akan terbawa arus “sibuk menceti HP”.
Saling memahami, saling mengkritik secara
santun adalah lebih baik daripada saling lempar-melempar hujatan.

Ni Ce
BalasHapusTerimakasih
Hapus