Kamis, 06 Oktober 2022

“Sebuah Ungkapan Kerinduan, untuk Soeharto”

Gambar: google.com
Oleh: Mariyatul Qibtiyah

Apa yang teman-teman pikirkan jika mendengar kata Soeharto, Zaman Soeharto atau Presiden Soeharto? Mungkin bagi mereka yang tidak puas dengan kinerja beliau akan mengatakan Soeharto adalah seorang pemimpin diktator, sosok kontroversial, KKN dan lain sebagainya. Dan mereka yang merasa puas, mungkin terbesit di pikiran bahwa Pak Soeharto adalah bapak pembangunan, pemimpin yang tegas dan berani, atau mungkin seorang inspirasirator. Tapi bukan itu poin yang akan saya bahas dalam essai ini ya…

Terlepas dari sisi buruk yang pernah dilakukannya, dengan karakter kepemimpinannya yang kuat tersebut, Soeharto berhasil mensejahterakan masyarakat Indonesia. Teman-teman pasti tahu dong mengenai peristiwa bersejarah bangsa Indonesia yang terjadi di bulan Mei 1998. Di mana itu adalah eranya Soeharto melepas jabatan sebagai presiden yang telah ia emban sekitar 32 tahun.

Pasca reformasi, permasalahan bangsa ini semakin rumit. Misalnya seperti terorisme, anarkisme, premanisme, kekerasan yang mengatasnamakan agama dan kerusuhan antar etnis.

Akibat dari semua permasalahan itu adalah kepercayaan masyarakat kepada para pemimpin menjadi pudar. Tak heran jika banyak orang yang merindukan sosok Soeharto. Suara-suara kerinduan terhadap Soeharto itu akan saya angkat dalam essai ini. Dengan membandingkan zaman Soeharto dan zaman sekarang kemudian mencoba mencari benang merahnya. Dengan harapan, dapat bermanfaat bagi zaman sekarang.

Mungkin tulisan ini akan terkesan "membela" zaman Soeharto. Tapi bagaimanapun juga, ini hanyalah sebuah ungkapan kerinduan dari saya kepada masa-masa kejayaan Soeharto, Saya juga ingin memberikan apresiasi kepadanya atas segala pencapaiannya. Tapi bukan berarti di sini saya sampai mengkultuskan atau bahkan mendewakan Pak Soeharto. Apalagi saya tidak mengakui bahwa Soeharto tidak mempunyai sedikit pun kesalahan.

Soeharto sama seperti kita, manusia biasa yang tentu tidak lepas dari kesalahan dan lupa. Karena itu, tulisan ini juga mengakui sisi gelap dari Pak Soeharto.

Ilustrasi: Sem Cornelyoes Bangun

Jika saya mengkritik kepemimpinan Pak Soeharto, kritik ini juga bisa dimaknai sebagai kritik saya terhadap para pemimpin saat ini. Para pemimpin yang terpilih saat ini sangat mungkin sebagai orang-orang yang vokal (maksudnya waktu reformasi mereka lantang berteriak untuk menurunkan Soeharto). Mereka (para bedebah) mengkritik orde baru dan menawarkan janji-janji baru yang menggiurkan bagi rakyat untuk segera memilih mereka sebagai pemimpin.

Misalnya saja, ada seorang oknum di masa reformasi tahun ‘98 ikut menyuarakan agar Pak Soeharto segera lengser dan merasa manjadi pihak yang sangat dirugikan oleh pemerintahannya. Setelah orde baru tumbang, mereka masuk dalam dunia politik kemudian mencalonkan diri sebagai pemimpin dan memberikan janji janji agar mereka terpilih.

Tapi, setelah dipilih oleh rakyat berbagai janji orang-orang yang soal itu hanyalah isapaan jempol belaka, rakyat malah tambah sengsara muncul kembali korupsi dan permasalahan-permasalahan lainnya. Kalau Pak Soeharto tidak banyak bicara, Soeharto lebih suka langsung bertindak dan bekerja.

Soeharto adalah pemimpin yang tegas, berani, banyak bekerja dan bertanggung jawab. Dibanding dengan kepemimpinan sekarang yang mana banyak kebijakan pemerintah tidak membawa ke arah perubahan yang pasti, terkesan ragu-ragu, tidak berani, serta tidak bertanggung jawab dalam segala resiko apapun yang akan terjadi. Contohnya, yang lagi viral tentang data masyarakat Indonesia yang bocor, ini terjadi karena kurang kompetennya pemerintahan kita. Maka, lebih baik mereka mengundurkan diri saja. Alias tidak perlu mendaftar sebagai calon presiden.

Sebagai akhir dari tulisan ini, saya akan memberikan sedikit prestasi Pak Soeharto. Tentunya yang saya dapat dari sumber yang bisa dipercaya.

1.    Membuat Indonesia Swasembada Pangan 

Barangkali karena ia berasal dari keluarga petani, sehingga sangat cerdas dalam urusan lumbung makanan penduduk. Di akhir kepemimpinannya, ia mampu memproduksi beras dengan jumlah yang fantastis dan Indonesia berhasil menjadi salah satu importir beras terbesar di dunia. Karena pencapain itu, Pak Soeharto mendapat medali emas oleh FAO, Organisasi pangan di bawah PBB tahun 1985.

2.    Jarang Terjadi Keributan Atau Bisa Dibilang Aman

Seperti tawuran antar suku, kekerasan antar-umat beragama, tawuran antar pelajar dan premanisme. Keributan-keributan ini hampir sepi di masa Soeharto. 

3.    Harga Bahan Pokok Murah

Memang, jika dibandingkan dengan nominal (nilai tukar) uang jaman dulu dan zaman sekarang tentu sangat jauh nilainya. Namun bisa harga bahan pokok pada zaman itu terbilang murah. Tidak seperti sekarang yang harganya tidak menentu setiap tahun, khususnya bulan Ramadan, (kerap -ed) terjadi kenaikan harga bahan pokok. 

4.    Bidang Olahraga Indonesia di Masa Keemasannya

Misalnya, (dalam bidang -ed) bulu tangkis ada Susi Susanti. Dan masih banyak lagi prestasi yang dibuat oleh Pak Soeharto yang, mungkin, kebanyakan orang lupa karena sisi gelapnya yang sudah terlanjur sering menjadi pembicaraan.

*****

Quotes of the day is…

“PIYE KABARE?, ENAK JAMANKU THO”


Selasa, 04 Oktober 2022

Gema Lantunan Dzikir, Manaqib dan Maulidurrosul Saw Al Khidmah di Kampus 2

Dok: Faiz/HMPS

Pengurus Daerah Al Khidmah Kota Salatiga menggelar majelis dzikir, manaqib dan maulidurrosul Saw di Masjid Ath-Thayyar, Kampus 2 (3/10/2022).

Gelaran tersebut adalah bagian dari rangkaian majelis dzikir yang rutin diadakan oleh Al Khidmah Kota Salatiga. Rutinan itu digelar selapan (35 hari) sekali dan berganti secara bergilir di tiap kecamatan.

“Ketepatan putaran kali ini gilirannya Kecamatan Sidomukti; dan memang biasanya ditempatkan di Masjid Ath-Thayyar (sebelum pandemi),” ungkap Dzulfikar Ali Rohim, Mahasiswa SPI Semester 4 selaku Koordinator Acara.

Lebih dari seratus orang hadir dalam gelaran tersebut. Hadirin didominasi oleh pemuda, baik laki-laki maupun perempuan. Mereka datang dari berbagai latar belakang tempat dan latar belakang identitas.

"Kami tadi menyediakan 27 nampan. Satu nampan biasanya cukup untuk dikonsumsi empat orang. Berdasarkan itu, yang hadir bisa dilatakan sekitar 112 orang," ujarnya.

Gelaran tersebut dihadiri pula oleh Wakil Dekan 3 Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora UIN Salatiga, Abdul Syukur. Dalam kesempatan itu, dia mengapresiasi sekaligus berterimakasih kepada pihak penyelenggara.

"Saya, mewakili takmir masjid Ath-Thayyar dan Civitas Akademika FUADAH, berterimakasih karena penyelenggara memilih masjid ini sebagai tempat manaqib. Majelis ini luar biasa, karena yang hadir dari tempat yang jauh-jauh," ungkapnya.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan shalat maghrib berjamaah. Dilanjutkan dengan yasinan bersama, shalat isya’ berjamaah, kemudian dipuncaki dengan pembacaan manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani. Kegiatan ini berakhir pada sekitar pukul 22.00 WIB.

Fahmi Nur Ma’arif, yang mengikuti kegiatan tersebut (jamaah), mengatakan bahwa dia cukup puas dan mengapresiasi pihak penyelenggara, jamaah, takmir masjid dan Civitas Akademika FUADAH.

“Memang acara ini bagus, tapi saya masih merasa ada yang kurang pada acara tadi,” katanya.

Kembali kepada Dzulfikar, dia menyebut beberapa tokoh baik dari kampus maupun masyarakat terkonfirmasi ikut serta dalam kegiatan manaqib.

“Yang jelas Kiai Sholeh, selaku imam khusus; Lurah Kelurahan Bugel yang juga Ketua kedua Pengurus Al Khidmah Salatiga; Aam Anindita, ; Ketua Thoriqoh Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Salatiga,” ungkapnya.


Sabtu, 01 Oktober 2022

Mengenang Peristiwa G30S/PKI, HMPS SPI Gelar Diskusi di Tanggal yang Sama

Dok: Putra/HMPS










Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Sejarah Peradaban Islam (SPI) gelar diskusi dalam rangka mengenang peristiwa G30S/PKI secara offline di Ruang Sema/Dema/HMPS, Gedung D, Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora UIN Salatiga pada pukul 13.30-15.30 WIB (30/9/2022).

Dalam diskusi tersebut, hadir kurang-lebih 90 mahasiswa. Mahasiswa itu seluruhnya berasal dari Program Studi (Prodi) SPI. Didominasi oleh mahasiswa semester 3 dan semester 1.

Diskusi ini menghadirkan Adif Fahrizal Arifyadiputra, S. S., M. A., salah satu Dosen pengajar di prodi SPI sebagai pemantik. Dalam kesempatan ini, keluarganya ikut hadir. Satu pemandangan menarik yang baru kali ini terjadi dalam diskusi.

Kegiatan bertajuk "Menyingkap Tabir G30S/PKI bersama HMPS SPI" tersebut merupakan diskusi pertama pada tahun akademik ini 2022/2023.

Adif, sebagai pemantik  memberikan pemaparan detail mengenai peristiwa G30S. Selain itu, dia juga menyoroti hakikat peristiwa bersejarah itu dengan dibandingkan dengan peristiwa bersejarah lain. 

"Peristiwa G30S diperingati dengan sungguh-sungguh. Tapi, kenapa momentum Dekrit Presiden 5 Juni 1959, pengunduran diri Presiden Soeharto 21 Mei 1998, atau pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Kerajaan Belanda tidak diperingati besar-besaran seperti G30S?" paparnya.

Adif mengapresiasi kegiatan diskusi yang diinisiasi oleh HMPS SPI tersebut. "Yang hadir cukup banyak ya, diskusi ini baik sekali untuk melestarikan iklim akademik, momentumnya juga pas," ujarnya.

Di sisi lain, Mariyatul Qibtiyah (Mahasiswa SPI Semester 3) sebagai peserta merasa sesi penutup diskusi tidak sesuai dengan harapannya. "Sayang clossing-nya kurang memuaskan," ungkapnya.

Ketua HMPS SPI Muhammad Safi'i berharap, diskusi-diskusi yang mengangkat tema semacam ini harus digiatkan. Walau sensitif, ini akan membuat mahasiswa semakin kritis. Sehingga, mahasiswa betul-betul bisa menjadi "opinion maker". (Faiz/ed)


Rabu, 28 September 2022

Seminar Nasional, Ajang Meng-Upgrade Kekayaan Intelektual

Dokumentasi: Fahmi/HMPS

 “Kapan-kapan, mahasiswa (SPI UIN Salatiga -ed) harus bisa bikin tugas akhir keren kaya gini. Jangan bikin tugas akhir dengan format majalah (contoh: sejarah perantren xxx tahun xxx-xxx), itu ‘bosenin banget’.” Ujar Adif Fahrizal Arifyadiputra, salah satu dosen Prodi SPI, dalam caption gambar yang dia bagikan ke Grub WhatsApp angkatan 2020.

Ternyata, caption itu selaras dengan apa yang disampaikan oleh pemateri dalam Seminar Nasional HMPS SPI 2022. Acara yang bertajuk “Sejarah Visual di Era New Society” tersebut digelar di Lantai 3 Gedung KH. Hasyim Asy’ari, Kampus 3 pada Rabu, 14 September lalu.

Acara yang berlangsung selama kurang lebih 4 jam tersebut mendatangkan dua pemateri. Pertama Fransiskus Asisi Suharianto, Akademisi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga yang “nyambi” menjadi Content Creator sejarah dengan lebih dari 300.000 subscriber pada kanal You Tube-nya. Kedua, Agus Mulyadi, seorang blogger, penulis dan mantan Pemimpin Redaksi (Pemred) Mojok.co yang terkenal nyentrik dan lucu, baik penampilan maupun tulisannya.

Sebelum pemateri memaparkan materinya, seminar dibuka dengan sambutan yang disampaikan oleh Bapak Adif. Beliau mewakili Kaprodi dan Dekan FUADAH yang berhalangan hadir. Hal ini terjadi karena, di luar dugaan, seminar nasional berbarengan dengan kegiatan simposium di Rembang yang dinisiasi oleh Fakultas.

Dalam pemaparannya, Asisi membagikan “lima jurus ampuh mengemas sejarah secara menarik dan relevan”. Dari lima jurus tersebut, ada jurus yang dia ditekankan, yaitu: buat pembaca/penonton antusias dalam menikmati sejarah yang kita sajikan. Hal ini sangat beralasan, mengingat kecenderungan masyarakat yang lebih suka menonton video pendek informatif daripada membaca buku atau media massa.

Para contnt creator yang naik daun dalam dua tahun belakangan, semuanya memiliki ciri khas, yaitu storrytelling. Satu hal yang menjadi “ruh”-nya storrytelling adalah dramatisasi cerita, ini yang membuat cerita menjadi menarik. “Sampaikan sejarah dengan dramatis!” tandasnya.

Kemudian, Agus memaparkan tentang kesadaran arsip yang begitu penting dan berdampak besar. Salah satu komponen sejarah ini tidak melulu berupa arsip fisik yang kita kenal, karena ada juga arsip digital. Bahkan, digitalisasi arsip-arsip fisik sedang gencar dilakukan oleh Arsip Nasional RI (ANRI) belakangan ini. “Arsip yang baik adalah arsip yang mudah diakses. Tulisan-tulisan kalian di media sosial dan blog, itu termasuk arsip digital,” tambahnya.

Agus juga mengingatkan seluruh peserta seminar terhadap kesadaran sejarah. Banyak kritik dilontarkan kepada para sejarawan karena mereka cenderung hanya menuliskan sejarah “besar”. Sejarah “kecil”, yang menjadi bagian dari sejarah “besar”, kurang mendapatkan perhatian.“Sejarah tidak cuma tentang hal-hal besar,” tegasnya.

Seluruh peserta seminar nasional terlihat begitu antusias dan bersemangat dalam mengikuti kegiatan ini dari awal sampai akhir. Salah satu sebabnya adalah selentingan jokes yang dilontarkan oleh pemateri yang disambut oleh gelak tawapara peserta. Sehingga, suasana ruang seminar menjadi cair, santai tapi serius. “Pematerinya gokil abis!” ujar Fatah Akrom, salah satu peserta seminar.
Delegasi dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga (jas kuning). Dok: Fahmi












Selain mahasiswa UIN Salatiga, seminar ini juga dihadiri oleh mahasiswa dari universitas lain. Mereka adalah mahasiswa Prodi Sejarah Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga; Sejarah Kebudayaan Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta;  dan mahasiswa dari prodi yang sama dari UIN Raden Mas Said, Surakarta. Bahkan, rombongan mahasiswa dari dua universitas terahir sudah sampai dan menginap di Salatiga pada selasa malam.

Delegasi UIN Sunan Kalijaga (jas hijau tua) dan UIN Raden Mas Said (jas hijau muda). Dok: Fahmi 

Sebagai penutup, kegiatan yang digelar oleh HMPS SPI UIN Salatiga dua pekan lalu sesuai dengan gagasan Kuntowijoyo dalam Metodologi Sejarah. Sejarah yang dikemas secara visual adalah upaya agar “sejarah tidak menjadi ilmu yang dianak-tirikan.” (Faiz/Fahmi/ed)

Jumat, 16 September 2022

Found You (2)

 

Ilustrasi: unsplash.com

Oleh: Rohifuly Khabibah Malikil Qudus

“Jadi aku ini…”

“Aku belum tahu kau itu pasanganku atau bukan. Karena bedasarkan buku leluhur cirimu kurang kuat.” Hana bernafas lega. Ia tidak jadi pasangan vampir. Beberapa saat keheningan melanda mereka berdua.

“Ehm... Aku ingin pulang. Bolehkah”?

“Kau harus di sini beberapa saat. Lukamu belum sembuh. Dan kuyakin kau pasti sangat lemah.”

“Tapi bagaimana dengan kuliahku? Aku pasti dicari sahabatku.”

“Ohhh... Yang bernama Jihan itu ya?” Ujar Juan santai. Hana terkejut. Bagaimana bisa Juan tahu nama sahabatnya.

“Maaf sebelumnya. Tadi malam saat aku membawamu ke sini, aku sempat melihat pesan yang masuk di ponselmu. Kutebak jika Jihan adalah temanmu. Ia bertanya apakah kau sudah sampai rumah.”

“Lalu?”

“Aku bilang jika kau sudah sampai rumah dan hari ini tidak bisa kuliah karena sakit. Jadi aku minta padanya untuk memberikanmu izin.”

“Jadi kau harus tetap di sini sampai benar-benar pulih. Dan ini, makanlah, aku sudah memasakkan makanan. Tenang, tidak ada racunnya kok.” Ujar Juan sambil tersenyum manis. Hana yang bisa gugup sambil menerima mangkuk berisi sup dari Juan.

“Makanlah sampai habis, aku pergi dulu.”

Saat Juan menghilang dari balik pintu, Hana lega karena akhirnya bisa leluasa. Ia masih sedikit was-was dengan Juan. Jelas sekali jika tadi malam ia menjadi vampir yang menyeramkan. Paginya tiba-tiba menjadi lelaki tampan yang sikapnya sangat lembut. Hana memutuskan untuk tidak berpikir lebih lama lagi. Ia lekas memakan sarapannya agar ia cepat pulih dan pergi dari sini.

 

*****

Setelah beberapa hari di rumah Juan, Hana berpamitan pulang pada Juan. Juan juga meminta maaf jika waktu lalu telah menyakitinya, dan Hana pun bisa memaklumi itu. Jika ditanya apakah Hana masih takut dengan Juan, jawabannya adalah tidak. Hana melihat jika Juan bukanlah vampir menyeramkan seperti yang ia lihat di beberapa film. Juan terkesan lebih seperti manusia, hanya saja ia minum darah. Sikapnya juga sopan dan sangat menghargai Hana.

Sebagai bentuk permintaan maafnya, Juan berniat mengantar Hana sampai rumahnya. Dan juga Hana masih sedikit lemah jika harus pergi sendirian. Selama perjalanan, Juan dan Hana banyak berbincang tentang banyak hal.

“Terima kasih kau sudah mau mengantarku pulang.”

“Sama-sama. Anggap saja ini permintaan maafku.” Tak lama kemudian, Juan dan Hana sampai. Hana menawarkan Juan untuk mampir, tapi Juan menolak dengan halus. Ia harus segera pergi menemui orangtuanya karena ada acara keluarga.

“Kalau begitu… aku pergi dulu. Sampai jumpa Hana.”

“Sampai jumpa Juan.”           

Hana lekas masuk ke dalam apartemennya setelah Juan menghilang dari balik pagar.

****

Setelah berpisah dengan Juan, Hana kembali lagi menjalani aktivitasnya. Ia akan berangkat kuliah dengan Jihan dan akan bekerja di sore hari. Hana dan Juan juga terkadang bertemu untuk sekedar mengobrol dan mereka menjadi cukup dekat. Terlihat juga yang beberapa kali mengantar Hana pulang ke apartemen. Namun, beberapa hari ini Juan tidak terdengar lagi kabarnya. Hana pikir Juan sedang sibuk. Tapi, Hana merasa bahwa ia lebih menginginkan Juan ada di sisinya saat ini, ketimbang hanya sekedar kabar. Aneh.

Di sisi lain, Juan sedang berada di rumah orang tuanya yang terletak di pinggir hutan dan cukup jauh dari pemukiman manusia. Rumahnya terlihat agak besar dengan gaya abad pertengahan.

“Juan apa kau yakin dia bukan pasanganmu”? Tanya ibu Juan. Juan hanya menggeleng.

“Sebenarnya, Juan juga tidak yakin apakah dia pasangan Juan. Waktu itu, ketika aku benar-benar hilang kendali untuk pertama kalinya. Ibu tahu sendiri jika aku tidak pernah minum darah manusia sedari kecil. Rasanya aroma darah Hana terasa sangat kuat dan aku untuk pertama kalinya juga merasa tersiksa jika aku tidak meminum darahnya.” jelas Juan.

“Juan, dari ceritamu saja ibu sudah yakin jika Hana adalah pasanganmu. Hanya satu hal yang membuatmu ragu. Apakah ada tanda lahir di tengkuknya. “

“Aku belum tahu”

“Juan, kau harus segera memastikan hal itu.” Ayah Juan tiba-tiba datang dari luar rumah.

“Ayah...”

“Kami tidak pernah mencoba melawan takdir dengan memaksakan agar kau harus memiliki pasangan dari satu dunia yang sama. Jika dengan manusia pun kau akan menemukan kedamaian, kami akan terus mendukungmu”

“Juan, maaf kami harus pergi bertemu dengan dewan. Kami berusaha agar kau tetap menjalankan hidupmu sesuai dengan apa yang hatimu harapkan. Ayah harap saat kembali ayah dan ibu sudah kembali, kau telah menemukan pasangamu, Juan.”

“Kami pergi dulu Juan. Jaga dirimu baik-baik.” Ayah dan Ibu Juan menghilang di balik portal sihir.

Setelah orang tuanya pergi, Juan lekas ingin menemui Hana lagi. Ia berharap apa yang dikatakan ibunya benar.

*****

Hana baru saja pulang sehabis bekerja. Dan ia tidak bersama dengan Jihan. Karena Jihan masih ada jam kuliah. Saat ia akan menyebrang ke trotoar ia melihat seorang wanita tua sedang kesulitan karena beberpa barangnya tiba-tiba saja terjatuh. Hana segera membantunya.

“Apakah anda baik-baik saja, Bu?. Mari saya bantu.”

“Sudah jangan. Aku akan merepotkanmu.” Wanita itu mencegah Hana.

“Tidak apa-apa, Bu. Saya juga tidak keberatan.” ujar Hana santun.

“Nak… kau harus segera menemui Juan.” Hana sontak terkejut bukan main saat wanita asing itu tiba-tiba menyebut nama Juan. Dari mana dia tahu? Begitu pikir Hana. Hana menghadakan wajahnya pada wanita itu.

“Bagaimana kau…”

“Aku punya sedikit kelebihan untuk melihat masa depan orang lain. Hana, kau akan menemukan sesuatu yang tidak akan kau duga bersama Juan. Jangan lepaskan dia! Dia akan menjadi orang yang berharga dan berarti untukmu.”

Hana melamun. Ia cukup terkejut dengan apa yang barusan terjadi. Dan tiba-tiba saja wanita itu hilang. Hana menncari ke sekelilingnya tapi tetap saja hasilnya nihil. Tanpa berpikir panjang, Hana segera pergi dan mencari bus untuk pulang. Ia masih bingung dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Hana kembali harus melewati gang gelap dengan apartemennya seorang diri. Namun, Hana ingat jika Juan tidak mungkin datang lagi. Hana berjalan santai sambil sesekali melihat pesan dari Jihan. Saat sudah hampir samapai di ujung gang, Hana merasa ada kehadiran seseorang.

“Hai Hana... lama tidak bertemu.” Hana membelalakkan matanya. Ia tahu betul siapa pemilik suara itu. Dan itu bukanlah Juan. Hana sontak menjatuhkan ponselnya ke tanah karena saking terkejutnya saat meihat siapa sosok di depannya saat ini.

“K-kau…”

“Ya… aku Hansung. Mantan kekasihmu.”

“A-aku sedang sibuk.” Hana lekas mengambil ponselnya dan bergegas pergi. Namun, Hansung langsung menarik Hana dan menahannya.

“Heiii…mau kemana? Aku sangat merindukanmu.”

“Hansung… tolong jangan seperti ini. Aku sudah melupakanmu. Biarkan aku hidup tenang.”

Hansung adalah orang yang pernah memiliki arti penting dalam hidup Hana. Namun, Hansung dengan teganya hanya menjadikan Hana sebagai bahan taruhan. Saat Hana memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Hansung, Hansung malah berbalik tidak mau melepaskan Hana.

“Diamm!!! Kau cukup jadi gadis penurut dan kembalilah padaku. Aku tidak akan menyakitimu lagi.”

Hana hanya bisa menangis sambil terus berusaha melepaskan tanganya dari cengkeraman Hansung. Hana tiba-tiba teringat dengan Juan. Meskipun, pertemuan dengannya cukup singkat. Hana sadar meskipun Juan bukanah manusia, nyatanya ia lebih manusiawi dibanding Hansung. Hansung adalah hal paling mengerikan yang Hana tahu sepanjang hidupnya.

Lima tahun yang lalu.

Hana sedang bahagia karena akan menemui Hansung di kelas untuk memberinya kejutan ulang tahun. Saat sampai di depan ruang kelas, Hana sayup-sayup mendengar seseorang membicarakan namanya. Namun ketika Hana mengintip untuk melihat siapa yang sedang berbicara, ia pun malah dikejutkan dengan hal yang sangat menyakitkan.

“Hah! Kau pikir aku benar-benar menyukai Hana? Dia gadis yang sangat bodoh. Mudah sekali menjadikan dia taruhan.”

Hadiah yang Hana bawa pun tiba-tiba saja terjatuh dan mengagetkan semua orang yang ada di dalam kelas itu, termasuk Hansung. Ya, yang menjadikan Hana sebagai taruhan adalah Hansung. Hana lekas saja berlari menjauh. Namun, belum sampai ia pergi Hansung mencekal tangan Hana.

“Hana…a-aku bisa jelaskan.” Hana dengan cepat menepis tangan Hansung.

“Hansung kau adalah orang baik. Kau terlalu baik hingga aku yang hanya bahan taruhan tidak pantas untukmu.” Sarkas Hana.

“Hana... tolong kau salah paham.”

“Iya aku salah paham. Aku tidak memahami apa maumu hingga aku kau jadikan mainan. Mungkin, aku pernah membuat kesalahan besar hingga kau melakukan ini padaku. Maaf Hansung, kita cukupkan di sini saja.” Setelah itu Hana berlari sekuat tenaga dan tidak peduli meski namanya berkali-kali dipanggil. Air matanya terus berjatuhan membasahi pipinya.

Hansung mendekatkan wajahnya kepada Hana berniat untuk melecehkannya. Hana hanya yang tenaganya tidak sebanding dengan Hansung pun hanya bisa memejamkan matanya sambil terisak.

“Hansung kumohon.” Pinta Hana.

“Shuttt... Diam sayang. Kau hanya milikku.”

Hana hanya bisa terus menangis dan juga merasakan deru nafas Hansung yang semakin dekat.

Brukkkk!!

***BERSAMBUNG***