![]() |
| Ilustrasi: unsplash.com |
“Jadi aku ini…”
“Aku belum tahu kau itu pasanganku atau bukan. Karena
bedasarkan buku leluhur cirimu kurang kuat.” Hana
bernafas lega. Ia tidak jadi pasangan vampir. Beberapa saat keheningan melanda
mereka berdua.
“Ehm...
Aku
ingin pulang. Bolehkah”?
“Kau harus di sini beberapa saat. Lukamu belum sembuh.
Dan kuyakin kau pasti sangat lemah.”
“Tapi bagaimana dengan kuliahku? Aku pasti dicari sahabatku.”
“Ohhh...
Yang bernama Jihan itu ya?” Ujar
Juan santai. Hana terkejut. Bagaimana bisa Juan tahu nama sahabatnya.
“Maaf sebelumnya. Tadi malam saat aku membawamu ke
sini, aku sempat melihat pesan yang masuk di ponselmu. Kutebak jika Jihan
adalah temanmu. Ia bertanya apakah kau sudah sampai rumah.”
“Lalu?”
“Aku bilang jika kau sudah sampai rumah dan hari ini
tidak bisa kuliah karena sakit. Jadi aku minta padanya untuk memberikanmu izin.”
“Jadi kau harus tetap di sini sampai benar-benar
pulih. Dan ini,
makanlah, aku
sudah memasakkan makanan. Tenang,
tidak ada racunnya kok.”
Ujar Juan sambil tersenyum manis. Hana yang
bisa gugup sambil menerima mangkuk berisi sup dari Juan.
“Makanlah sampai habis, aku pergi dulu.”
Saat
Juan menghilang dari balik pintu, Hana
lega karena akhirnya bisa leluasa. Ia masih sedikit was-was dengan Juan. Jelas sekali jika tadi malam ia
menjadi vampir yang menyeramkan. Paginya tiba-tiba menjadi lelaki tampan yang
sikapnya sangat lembut. Hana memutuskan untuk tidak berpikir lebih lama lagi. Ia lekas memakan sarapannya agar ia cepat pulih dan pergi dari
sini.
*****
Setelah beberapa hari di rumah Juan, Hana berpamitan pulang pada Juan. Juan juga meminta maaf jika waktu
lalu telah menyakitinya,
dan Hana
pun bisa memaklumi itu. Jika ditanya apakah Hana masih takut dengan Juan, jawabannya adalah tidak. Hana
melihat jika Juan
bukanlah vampir menyeramkan seperti yang ia lihat di beberapa film. Juan terkesan lebih
seperti manusia,
hanya saja ia minum darah. Sikapnya juga sopan dan sangat menghargai Hana.
Sebagai bentuk permintaan maafnya, Juan berniat mengantar Hana sampai rumahnya. Dan juga Hana masih sedikit lemah jika harus pergi
sendirian. Selama perjalanan, Juan
dan Hana
banyak berbincang tentang banyak hal.
“Terima kasih kau sudah mau mengantarku pulang.”
“Sama-sama. Anggap saja ini permintaan maafku.” Tak
lama kemudian, Juan
dan Hana
sampai. Hana menawarkan Juan
untuk mampir, tapi Juan
menolak dengan halus. Ia harus segera pergi menemui orangtuanya karena ada
acara keluarga.
“Kalau
begitu… aku pergi dulu. Sampai jumpa Hana.”
“Sampai
jumpa Juan.”
Hana
lekas masuk ke dalam apartemennya setelah Juan menghilang dari balik pagar.
****
Setelah berpisah dengan Juan, Hana kembali lagi
menjalani aktivitasnya. Ia akan berangkat kuliah dengan Jihan dan akan bekerja di sore hari. Hana
dan Juan
juga terkadang bertemu untuk sekedar mengobrol dan mereka menjadi cukup dekat.
Terlihat juga yang beberapa kali mengantar Hana pulang ke apartemen. Namun, beberapa
hari ini Juan
tidak terdengar lagi kabarnya. Hana pikir Juan sedang sibuk. Tapi, Hana merasa bahwa ia lebih menginginkan Juan ada di sisinya saat ini, ketimbang hanya sekedar kabar. Aneh.
Di sisi lain, Juan sedang berada di rumah orang tuanya
yang terletak di pinggir hutan dan cukup jauh dari pemukiman manusia. Rumahnya
terlihat agak besar dengan gaya abad pertengahan.
“Juan apa kau yakin dia bukan pasanganmu”? Tanya ibu Juan.
Juan hanya menggeleng.
“Sebenarnya, Juan juga tidak yakin apakah dia pasangan
Juan. Waktu itu, ketika aku benar-benar hilang kendali untuk pertama kalinya.
Ibu tahu sendiri jika aku tidak pernah minum darah manusia sedari kecil.
Rasanya aroma darah Hana terasa sangat kuat dan aku untuk pertama kalinya juga
merasa tersiksa jika aku tidak meminum darahnya.” jelas Juan.
“Juan, dari ceritamu saja ibu sudah yakin jika Hana
adalah pasanganmu. Hanya satu hal yang membuatmu ragu. Apakah ada tanda lahir
di tengkuknya. “
“Aku belum tahu”
“Juan, kau harus segera memastikan hal itu.” Ayah Juan
tiba-tiba datang dari luar rumah.
“Ayah...”
“Kami tidak pernah mencoba melawan takdir dengan
memaksakan agar kau harus memiliki pasangan dari satu dunia yang sama. Jika
dengan manusia pun kau akan menemukan kedamaian, kami akan terus mendukungmu”
“Juan, maaf kami harus pergi bertemu dengan dewan.
Kami berusaha agar kau tetap menjalankan hidupmu sesuai dengan apa yang hatimu
harapkan. Ayah harap saat kembali ayah dan ibu sudah kembali, kau telah
menemukan pasangamu,
Juan.”
“Kami pergi dulu Juan. Jaga dirimu baik-baik.” Ayah
dan Ibu Juan menghilang
di balik portal sihir.
Setelah orang tuanya pergi, Juan lekas ingin menemui Hana
lagi. Ia berharap apa yang dikatakan ibunya benar.
*****
Hana baru saja pulang sehabis bekerja. Dan ia tidak
bersama dengan Jihan.
Karena Jihan
masih ada jam kuliah. Saat ia akan menyebrang ke trotoar ia melihat seorang
wanita tua sedang kesulitan karena beberpa barangnya tiba-tiba saja terjatuh. Hana
segera membantunya.
“Apakah anda baik-baik saja, Bu?.
Mari saya bantu.”
“Sudah jangan. Aku akan merepotkanmu.” Wanita
itu mencegah Hana.
“Tidak apa-apa, Bu.
Saya juga tidak keberatan.”
ujar Hana santun.
“Nak… kau
harus segera menemui Juan.”
Hana sontak terkejut bukan main saat wanita asing itu tiba-tiba menyebut nama Juan.
Dari mana dia tahu?
Begitu pikir Hana. Hana menghadakan wajahnya pada wanita itu.
“Bagaimana kau…”
“Aku punya sedikit kelebihan untuk melihat masa depan
orang lain. Hana, kau akan menemukan sesuatu yang tidak akan kau duga bersama Juan.
Jangan lepaskan dia!
Dia akan menjadi orang yang berharga dan berarti untukmu.”
Hana melamun. Ia cukup terkejut dengan apa yang
barusan terjadi. Dan tiba-tiba saja wanita itu hilang. Hana menncari ke
sekelilingnya tapi tetap saja hasilnya nihil. Tanpa berpikir panjang, Hana
segera pergi dan mencari bus untuk pulang. Ia masih bingung dengan kejadian
yang baru saja menimpanya. Hana kembali harus melewati gang gelap dengan
apartemennya seorang diri. Namun, Hana ingat jika Juan tidak mungkin datang
lagi. Hana berjalan santai sambil sesekali melihat pesan dari Jihan. Saat sudah hampir samapai di ujung
gang, Hana
merasa ada kehadiran seseorang.
“Hai Hana... lama
tidak bertemu.”
Hana membelalakkan matanya. Ia tahu betul siapa pemilik suara itu. Dan itu
bukanlah Juan. Hana sontak menjatuhkan ponselnya ke tanah karena saking
terkejutnya saat meihat siapa sosok di depannya saat ini.
“K-kau…”
“Ya… aku
Hansung. Mantan kekasihmu.”
“A-aku sedang sibuk.” Hana lekas mengambil ponselnya dan
bergegas pergi. Namun, Hansung
langsung menarik Hana dan menahannya.
“Heiii…mau kemana? Aku sangat merindukanmu.”
“Hansung… tolong
jangan seperti ini. Aku sudah melupakanmu. Biarkan aku hidup tenang.”
Hansung adalah orang yang pernah memiliki arti penting
dalam hidup Hana. Namun, Hansung
dengan teganya hanya menjadikan Hana sebagai bahan taruhan. Saat Hana
memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Hansung, Hansung malah berbalik tidak mau melepaskan Hana.
“Diamm!!! Kau cukup jadi gadis penurut dan kembalilah
padaku. Aku tidak akan menyakitimu lagi.”
Hana hanya bisa menangis sambil terus berusaha
melepaskan tanganya dari cengkeraman Hansung. Hana tiba-tiba teringat dengan Juan. Meskipun,
pertemuan dengannya cukup singkat.
Hana
sadar meskipun Juan bukanah manusia,
nyatanya
ia lebih manusiawi dibanding Hansung.
Hansung adalah hal paling mengerikan yang Hana tahu sepanjang hidupnya.
Lima tahun yang lalu.
Hana sedang bahagia karena akan menemui Hansung di
kelas untuk memberinya kejutan ulang tahun. Saat sampai di depan ruang kelas, Hana
sayup-sayup mendengar seseorang membicarakan namanya. Namun ketika Hana
mengintip untuk melihat siapa yang sedang berbicara, ia pun malah dikejutkan
dengan hal yang sangat menyakitkan.
“Hah! Kau
pikir aku benar-benar menyukai Hana?
Dia gadis yang sangat bodoh. Mudah sekali menjadikan dia taruhan.”
Hadiah
yang Hana bawa pun tiba-tiba saja terjatuh dan mengagetkan semua orang yang ada
di dalam kelas itu,
termasuk Hansung. Ya, yang menjadikan Hana sebagai taruhan adalah Hansung. Hana
lekas saja berlari menjauh. Namun, belum sampai ia pergi Hansung mencekal
tangan Hana.
“Hana…a-aku bisa jelaskan.” Hana dengan cepat menepis tangan Hansung.
“Hansung kau adalah orang baik. Kau terlalu baik
hingga aku yang hanya bahan taruhan tidak pantas untukmu.” Sarkas
Hana.
“Hana... tolong
kau salah paham.”
“Iya aku salah paham. Aku tidak memahami apa maumu
hingga aku kau jadikan mainan. Mungkin, aku pernah membuat kesalahan besar
hingga kau melakukan ini padaku. Maaf Hansung, kita cukupkan di sini saja.” Setelah itu Hana berlari sekuat tenaga dan
tidak peduli meski namanya berkali-kali dipanggil. Air matanya terus berjatuhan
membasahi pipinya.
Hansung mendekatkan wajahnya kepada Hana berniat untuk
melecehkannya. Hana hanya yang tenaganya tidak sebanding dengan Hansung pun
hanya bisa memejamkan matanya sambil terisak.
“Hansung kumohon.” Pinta Hana.
“Shuttt...
Diam sayang. Kau hanya milikku.”
Hana hanya bisa terus menangis dan juga merasakan deru
nafas Hansung yang semakin dekat.
Brukkkk!!
***BERSAMBUNG***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar