Jumat, 16 September 2022

Found You (2)

 

Ilustrasi: unsplash.com

Oleh: Rohifuly Khabibah Malikil Qudus

“Jadi aku ini…”

“Aku belum tahu kau itu pasanganku atau bukan. Karena bedasarkan buku leluhur cirimu kurang kuat.” Hana bernafas lega. Ia tidak jadi pasangan vampir. Beberapa saat keheningan melanda mereka berdua.

“Ehm... Aku ingin pulang. Bolehkah”?

“Kau harus di sini beberapa saat. Lukamu belum sembuh. Dan kuyakin kau pasti sangat lemah.”

“Tapi bagaimana dengan kuliahku? Aku pasti dicari sahabatku.”

“Ohhh... Yang bernama Jihan itu ya?” Ujar Juan santai. Hana terkejut. Bagaimana bisa Juan tahu nama sahabatnya.

“Maaf sebelumnya. Tadi malam saat aku membawamu ke sini, aku sempat melihat pesan yang masuk di ponselmu. Kutebak jika Jihan adalah temanmu. Ia bertanya apakah kau sudah sampai rumah.”

“Lalu?”

“Aku bilang jika kau sudah sampai rumah dan hari ini tidak bisa kuliah karena sakit. Jadi aku minta padanya untuk memberikanmu izin.”

“Jadi kau harus tetap di sini sampai benar-benar pulih. Dan ini, makanlah, aku sudah memasakkan makanan. Tenang, tidak ada racunnya kok.” Ujar Juan sambil tersenyum manis. Hana yang bisa gugup sambil menerima mangkuk berisi sup dari Juan.

“Makanlah sampai habis, aku pergi dulu.”

Saat Juan menghilang dari balik pintu, Hana lega karena akhirnya bisa leluasa. Ia masih sedikit was-was dengan Juan. Jelas sekali jika tadi malam ia menjadi vampir yang menyeramkan. Paginya tiba-tiba menjadi lelaki tampan yang sikapnya sangat lembut. Hana memutuskan untuk tidak berpikir lebih lama lagi. Ia lekas memakan sarapannya agar ia cepat pulih dan pergi dari sini.

 

*****

Setelah beberapa hari di rumah Juan, Hana berpamitan pulang pada Juan. Juan juga meminta maaf jika waktu lalu telah menyakitinya, dan Hana pun bisa memaklumi itu. Jika ditanya apakah Hana masih takut dengan Juan, jawabannya adalah tidak. Hana melihat jika Juan bukanlah vampir menyeramkan seperti yang ia lihat di beberapa film. Juan terkesan lebih seperti manusia, hanya saja ia minum darah. Sikapnya juga sopan dan sangat menghargai Hana.

Sebagai bentuk permintaan maafnya, Juan berniat mengantar Hana sampai rumahnya. Dan juga Hana masih sedikit lemah jika harus pergi sendirian. Selama perjalanan, Juan dan Hana banyak berbincang tentang banyak hal.

“Terima kasih kau sudah mau mengantarku pulang.”

“Sama-sama. Anggap saja ini permintaan maafku.” Tak lama kemudian, Juan dan Hana sampai. Hana menawarkan Juan untuk mampir, tapi Juan menolak dengan halus. Ia harus segera pergi menemui orangtuanya karena ada acara keluarga.

“Kalau begitu… aku pergi dulu. Sampai jumpa Hana.”

“Sampai jumpa Juan.”           

Hana lekas masuk ke dalam apartemennya setelah Juan menghilang dari balik pagar.

****

Setelah berpisah dengan Juan, Hana kembali lagi menjalani aktivitasnya. Ia akan berangkat kuliah dengan Jihan dan akan bekerja di sore hari. Hana dan Juan juga terkadang bertemu untuk sekedar mengobrol dan mereka menjadi cukup dekat. Terlihat juga yang beberapa kali mengantar Hana pulang ke apartemen. Namun, beberapa hari ini Juan tidak terdengar lagi kabarnya. Hana pikir Juan sedang sibuk. Tapi, Hana merasa bahwa ia lebih menginginkan Juan ada di sisinya saat ini, ketimbang hanya sekedar kabar. Aneh.

Di sisi lain, Juan sedang berada di rumah orang tuanya yang terletak di pinggir hutan dan cukup jauh dari pemukiman manusia. Rumahnya terlihat agak besar dengan gaya abad pertengahan.

“Juan apa kau yakin dia bukan pasanganmu”? Tanya ibu Juan. Juan hanya menggeleng.

“Sebenarnya, Juan juga tidak yakin apakah dia pasangan Juan. Waktu itu, ketika aku benar-benar hilang kendali untuk pertama kalinya. Ibu tahu sendiri jika aku tidak pernah minum darah manusia sedari kecil. Rasanya aroma darah Hana terasa sangat kuat dan aku untuk pertama kalinya juga merasa tersiksa jika aku tidak meminum darahnya.” jelas Juan.

“Juan, dari ceritamu saja ibu sudah yakin jika Hana adalah pasanganmu. Hanya satu hal yang membuatmu ragu. Apakah ada tanda lahir di tengkuknya. “

“Aku belum tahu”

“Juan, kau harus segera memastikan hal itu.” Ayah Juan tiba-tiba datang dari luar rumah.

“Ayah...”

“Kami tidak pernah mencoba melawan takdir dengan memaksakan agar kau harus memiliki pasangan dari satu dunia yang sama. Jika dengan manusia pun kau akan menemukan kedamaian, kami akan terus mendukungmu”

“Juan, maaf kami harus pergi bertemu dengan dewan. Kami berusaha agar kau tetap menjalankan hidupmu sesuai dengan apa yang hatimu harapkan. Ayah harap saat kembali ayah dan ibu sudah kembali, kau telah menemukan pasangamu, Juan.”

“Kami pergi dulu Juan. Jaga dirimu baik-baik.” Ayah dan Ibu Juan menghilang di balik portal sihir.

Setelah orang tuanya pergi, Juan lekas ingin menemui Hana lagi. Ia berharap apa yang dikatakan ibunya benar.

*****

Hana baru saja pulang sehabis bekerja. Dan ia tidak bersama dengan Jihan. Karena Jihan masih ada jam kuliah. Saat ia akan menyebrang ke trotoar ia melihat seorang wanita tua sedang kesulitan karena beberpa barangnya tiba-tiba saja terjatuh. Hana segera membantunya.

“Apakah anda baik-baik saja, Bu?. Mari saya bantu.”

“Sudah jangan. Aku akan merepotkanmu.” Wanita itu mencegah Hana.

“Tidak apa-apa, Bu. Saya juga tidak keberatan.” ujar Hana santun.

“Nak… kau harus segera menemui Juan.” Hana sontak terkejut bukan main saat wanita asing itu tiba-tiba menyebut nama Juan. Dari mana dia tahu? Begitu pikir Hana. Hana menghadakan wajahnya pada wanita itu.

“Bagaimana kau…”

“Aku punya sedikit kelebihan untuk melihat masa depan orang lain. Hana, kau akan menemukan sesuatu yang tidak akan kau duga bersama Juan. Jangan lepaskan dia! Dia akan menjadi orang yang berharga dan berarti untukmu.”

Hana melamun. Ia cukup terkejut dengan apa yang barusan terjadi. Dan tiba-tiba saja wanita itu hilang. Hana menncari ke sekelilingnya tapi tetap saja hasilnya nihil. Tanpa berpikir panjang, Hana segera pergi dan mencari bus untuk pulang. Ia masih bingung dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Hana kembali harus melewati gang gelap dengan apartemennya seorang diri. Namun, Hana ingat jika Juan tidak mungkin datang lagi. Hana berjalan santai sambil sesekali melihat pesan dari Jihan. Saat sudah hampir samapai di ujung gang, Hana merasa ada kehadiran seseorang.

“Hai Hana... lama tidak bertemu.” Hana membelalakkan matanya. Ia tahu betul siapa pemilik suara itu. Dan itu bukanlah Juan. Hana sontak menjatuhkan ponselnya ke tanah karena saking terkejutnya saat meihat siapa sosok di depannya saat ini.

“K-kau…”

“Ya… aku Hansung. Mantan kekasihmu.”

“A-aku sedang sibuk.” Hana lekas mengambil ponselnya dan bergegas pergi. Namun, Hansung langsung menarik Hana dan menahannya.

“Heiii…mau kemana? Aku sangat merindukanmu.”

“Hansung… tolong jangan seperti ini. Aku sudah melupakanmu. Biarkan aku hidup tenang.”

Hansung adalah orang yang pernah memiliki arti penting dalam hidup Hana. Namun, Hansung dengan teganya hanya menjadikan Hana sebagai bahan taruhan. Saat Hana memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Hansung, Hansung malah berbalik tidak mau melepaskan Hana.

“Diamm!!! Kau cukup jadi gadis penurut dan kembalilah padaku. Aku tidak akan menyakitimu lagi.”

Hana hanya bisa menangis sambil terus berusaha melepaskan tanganya dari cengkeraman Hansung. Hana tiba-tiba teringat dengan Juan. Meskipun, pertemuan dengannya cukup singkat. Hana sadar meskipun Juan bukanah manusia, nyatanya ia lebih manusiawi dibanding Hansung. Hansung adalah hal paling mengerikan yang Hana tahu sepanjang hidupnya.

Lima tahun yang lalu.

Hana sedang bahagia karena akan menemui Hansung di kelas untuk memberinya kejutan ulang tahun. Saat sampai di depan ruang kelas, Hana sayup-sayup mendengar seseorang membicarakan namanya. Namun ketika Hana mengintip untuk melihat siapa yang sedang berbicara, ia pun malah dikejutkan dengan hal yang sangat menyakitkan.

“Hah! Kau pikir aku benar-benar menyukai Hana? Dia gadis yang sangat bodoh. Mudah sekali menjadikan dia taruhan.”

Hadiah yang Hana bawa pun tiba-tiba saja terjatuh dan mengagetkan semua orang yang ada di dalam kelas itu, termasuk Hansung. Ya, yang menjadikan Hana sebagai taruhan adalah Hansung. Hana lekas saja berlari menjauh. Namun, belum sampai ia pergi Hansung mencekal tangan Hana.

“Hana…a-aku bisa jelaskan.” Hana dengan cepat menepis tangan Hansung.

“Hansung kau adalah orang baik. Kau terlalu baik hingga aku yang hanya bahan taruhan tidak pantas untukmu.” Sarkas Hana.

“Hana... tolong kau salah paham.”

“Iya aku salah paham. Aku tidak memahami apa maumu hingga aku kau jadikan mainan. Mungkin, aku pernah membuat kesalahan besar hingga kau melakukan ini padaku. Maaf Hansung, kita cukupkan di sini saja.” Setelah itu Hana berlari sekuat tenaga dan tidak peduli meski namanya berkali-kali dipanggil. Air matanya terus berjatuhan membasahi pipinya.

Hansung mendekatkan wajahnya kepada Hana berniat untuk melecehkannya. Hana hanya yang tenaganya tidak sebanding dengan Hansung pun hanya bisa memejamkan matanya sambil terisak.

“Hansung kumohon.” Pinta Hana.

“Shuttt... Diam sayang. Kau hanya milikku.”

Hana hanya bisa terus menangis dan juga merasakan deru nafas Hansung yang semakin dekat.

Brukkkk!!

***BERSAMBUNG***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar