Selasa, 02 Agustus 2022

Diskusi Bareng SPI UIN Salatiga dan SPI UIN Tulungagung

 

Dokumentasi: Fahmi/HMPS

Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Sejarah Peradaban Islam  (SPI) UIN Salatiga gelar diskusi kolaborasi dengan HMPS SPI UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Mengangkat tema “Pembentukan Diferensiasi Sosial dan Moril dari Perpolitikan  Kolonial,” diskusi ini digelar secara online melalui Google Meet. Minggu, (31/7/2022), Pukul 14.00-Selesai.

Kurang lebih 54 Mahasiswa hadir dalam acara tersebut. Sebagai besar Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungangung dan Mahasiswa UIN Salatiga. Mahasiswa UIN Salatiga sendiri didominasi dari program studi SPI, sisanya dari Ilmu Hadist, IAT, dan AFI. 

Dalam diskusi tersebut, Muh Alima’shum Syarief (20), mahasiswa SPI semester 4, bertugas sebagai pemantik. Ali mengelaborasi secara rinci perubahan sosial dan moral yang terjadi pada masa kolonial.

Mohammad Sirojul Akbar (22), mahasiswa SPI UIN Tulungagung semester 6, bertindak sebagai pembanding. Sirojul memberikan penekanan pada perlawanan rakyat Madiun di bawah pimpinan Raden Rangga, keturunan Sultan Hamengkubuwono II.

Ahmad Fauzan, Koordinator diskusi tersebut mengungkapkan, diskusi ini diadakan untuk pendalaman materi Politik Kolonial, serta dampaknya yang membentuk moral sosial masyarakat dulu. “Untuk mengetahui keadaan politik ekonomi, pendidikan, sosial budaya, dan perlawanan pribumi ketika masa kolonial berkuasa.  Dalam kurun waktu VOC runtuh sampai masa jenderal fock berkuasa,” ungkapnya.

Muhammad Safi’i, Ketua HMPS SPI UIN Salatiga, mengungkapkan bahwa Pengurus HMPS SPI (UIN Salatiga –ed) bersukur bisa menjalin silaturrahmi dengan HMPS SPI UIN Sayyid Ali Rahmatullah. Acara ini diharapkan bisa menambah wawasan mahasiswa kedua kampus tersebut. “Serta tak lupa bisa salam sapa dengan kepengurusan HMPS UIN Sayyid Ali Rahmatullah di lain waktu dan saling menjaga komunikasi,” ujarnya.

Dwi Saputra, salah satu peserta diskusi dari UIN Salatiga, menyatakan bahwa diskusi ini memperdalam wawasannya mengenai diferensiasi sosial dan moril pada masa kolonial saat itu. “Hal yang dibicarakan pemateri juga dapat dipahami karena tidak hanya dijelaskan secara lisan, tapi disertai dengan power point,” tandasnya.

Sirojul, dalam clossing statement berpesan: “Belajarlah sejarah, sebelum sejarah memberi kalian pelajaran,” tegasnya. (DS/MS/Ed)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar