![]() |
| Dokumentasi: Fahmi/HMPS |
Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Sejarah
Peradaban Islam (SPI) UIN
Salatiga gelar diskusi kolaborasi dengan HMPS SPI UIN Sayyid Ali Rahmatullah
Tulungagung. Mengangkat tema “Pembentukan Diferensiasi Sosial dan
Moril dari Perpolitikan Kolonial,” diskusi ini digelar secara online melalui Google Meet. Minggu, (31/7/2022), Pukul
14.00-Selesai.
Kurang
lebih 54 Mahasiswa hadir dalam acara tersebut. Sebagai besar
Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungangung dan Mahasiswa UIN Salatiga. Mahasiswa UIN Salatiga sendiri didominasi dari program studi SPI,
sisanya dari Ilmu Hadist, IAT, dan AFI.
Dalam diskusi tersebut, Muh Alima’shum Syarief
(20), mahasiswa SPI semester 4, bertugas sebagai pemantik. Ali mengelaborasi
secara rinci perubahan sosial dan moral yang terjadi pada masa kolonial.
Mohammad Sirojul Akbar (22), mahasiswa SPI UIN
Tulungagung semester 6, bertindak sebagai pembanding. Sirojul memberikan
penekanan pada perlawanan rakyat Madiun di bawah pimpinan Raden Rangga,
keturunan Sultan Hamengkubuwono II.
Ahmad Fauzan, Koordinator diskusi tersebut
mengungkapkan, diskusi ini diadakan untuk pendalaman materi Politik Kolonial,
serta dampaknya yang membentuk moral sosial masyarakat dulu. “Untuk mengetahui
keadaan politik ekonomi, pendidikan, sosial budaya, dan perlawanan pribumi
ketika masa kolonial berkuasa. Dalam kurun
waktu VOC runtuh sampai masa jenderal fock berkuasa,” ungkapnya.
Muhammad Safi’i, Ketua HMPS SPI UIN Salatiga,
mengungkapkan bahwa Pengurus HMPS SPI (UIN Salatiga –ed) bersukur bisa menjalin
silaturrahmi dengan HMPS SPI UIN Sayyid Ali Rahmatullah. Acara ini diharapkan
bisa menambah wawasan mahasiswa kedua kampus tersebut. “Serta tak lupa bisa
salam sapa dengan kepengurusan HMPS UIN Sayyid Ali Rahmatullah di lain waktu dan
saling menjaga komunikasi,” ujarnya.
Dwi Saputra, salah satu peserta diskusi dari
UIN Salatiga, menyatakan bahwa diskusi ini memperdalam wawasannya mengenai diferensiasi sosial dan
moril pada masa kolonial saat itu. “Hal yang dibicarakan pemateri juga dapat
dipahami karena tidak hanya dijelaskan secara lisan, tapi disertai dengan power point,” tandasnya.
Sirojul, dalam clossing statement berpesan: “Belajarlah sejarah, sebelum sejarah memberi kalian pelajaran,” tegasnya. (DS/MS/Ed)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar