Rabu, 03 Agustus 2022

Mahasiswa Muslim Sebagai Agent of Preserver Seni-Budaya Islam Lokal di Era Globalisasi (1)

 


Oleh: Ahmad Anas Fajarul

Pendahuluan  

Sebelum kedatangan kebudayaan Islam di Nusantara, kebudayaan Indonesia dalam masa pengaruh kebudayaan Hindu-Budha selama hampir 1000 tahun dan sering disebut dengan istilah kebudayaan klasik. Kemudian dengan kedatangan Islam di Nusantra menjadikan kebudayaan sebelumnya luntur karena ada akulturasi budaya Hindu-Budha dengan Islam.[1]

Kedatangan seni dan budaya Islam merupakan suatu tradisi yang sudah berkembang di masyarakat Indonesia dari awal Islam masuk ke Nusantara. Awal masuknya Islam ke Nusantara, kesenian dijadikan sebagai alat dakwah bagi para mubalig dalam mensyiarkan agama Islam. Kesenian dirasa cocok sebagai alat dakwah karena dahulu masyarakat Nusantara sangat menyukai kesenian. Oleh karena itu, para mubalig berinisiatif menjadikan kesenian sebagai alat dakwah untuk menarik simpati masyarakat agar mau mengenal Islam. Misalnya para Walisongo yang banyak mengunakan kesenian dalam dakwahnya.

Walisongo banyak mengubah atau mengakulturasi budaya dan kesenian lokal yang sudah berkembang di masyarakat Nusantara. Hal ini dilakukan dengan cara memberi dan memasukan nilai-nilai Islam dalam seni dan budaya lokal, sehingga  diharapkan masyarakat mampu mengenal dan memahami Islam lebih mudah. Kebanyakan kesenian Islam yang muncul pada waktu (itu -ed) dan masih berkembang sampai saat ini merupakan akultusrasi dengan kesenian dan budaya Hindhu dan Budha. Hal itu dikarenakan kebudayaan Hindhu Budha lebih awal ke Nusantara dari pada Islam.

            Kemudian, dari situ terciptalah banyak kesenian dan budaya Islam yang masih berkembang sampai saat ini. Seperti gamelan Jawa, rabana, kaligrafi, sastra, tari, dan lain sebagainya. Banyaknya kesenian Islam yang ada di Indonesia, sebagai bangsa Indonesia kita selayaknya harus menjaga dan melestarikan kesenian dan budaya Islam sebagai warisan nenek moyang agar tidak luntur dan tergerus oleh globalisasi zaman. Maka dari itu perlu banyak pihak untuk terlibat dalam melestarikan dan merawat seni-budaya Islam, salah satunya mahasiswa.

Mahasiswa Muslim Sebagai Agent of Preserver Seni-Budaya Islam Lokal di Era Globalisasi

            Berbicara (mengenai -ed) mahasiswa, pasti kita tidak terlepas dari pola pikirnya yang dianggap kritis terhadap suatu masalah yang terjadi disekitarnya. Mahasiswa dianggap sebagai kaum intelektual yang bisa merubah suatu tatanan sosial dan pemerintahan melalui pemikirannya. Di sisi lain, mahasiswa juga diharapkan dapat menjaga identitas bangsa melalui nasionalisme. Caranya  dengan menjaga budaya dan tradisi bangsa Indonesia agar tidak tergerus oleh globalisasi.

            Pada era globalisasi sekarang, seni budaya Islam yang berkembang di masyarakat hampir luntur dan tergerus zaman, terutama seni budaya Islam. Peran mahasiswa khususnya mahasiswa Muslim sangatlah penting dalam membangun dan mempertahankan kebudayaan bangsa Indonesia, terutama kebudayaan Islam, untuk memajukan kebudayaan Islam. Mahasiswa merupakan bagian besar dari kebudayaan itu sendiri. Maka dari itu, sebagai mahasiswa hendakanya  mampu membumikan kebudayaan sampai ke kancah internasional.

            Generasi muda, tidak lain mahasiswa, dituntut untuk memenuhi tugas dan tanggung jawabnya untuk berperan aktif dalam menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa tersebut. Kaum muda harus jadi part of solution, bukan part of problem. Berbasis semangat nasionalisme, pemuda harus bertindak memberikan solusi dari berbagai permasalahan kebangsaan di negeri ini,[2] terutama dalam permasalahan seni dan budaya.

            Tetapi, berbicara realita sekarang, masih banyak kekurangan peran mahasiswa terhadap pelestarian seni budaya lokal sendiri, terutama mahasiswa muslim dalam melestarikan seni budaya Islam. Hal ini dikarenakan kebanyakan mahasiswa masih menjadikan kuliah sebagai ajang untuk bersenang-senang, bukan sebagai ajang untuk mengoptimalkan kemampuan intelektual dan pengembangan diri.

Kemudian, mahasiswa hanya terpaku pada cita-cita, belajar yang baik, dapat gelar cum laude, lulus cepat dengan segudang prestasi akademik tanpa dibarengi pengalaman lapangan, lalu cari kerja, nikah, punya anak, dan ingin kaya sehingga kala tua bisa menikmati hidup dengan nyaman tampa ganguan. Itu semua merupakan  bentuk orientasi pemikiran  yang  egosentris.

            Seni budaya merupakan suatu yang paling rentan terkena dampak negatif globalisasi. Bentuk informasi dan sarana yang dapat diterima dengan bebas, tanpa batasan ruang dan waktu, bisa mempegaruhi pola bertindak dan berfikir mahasiswa. Sebagai mahasiswa yang menyandang (predikat -ed) kaum berpendidikan yang dianggap mempunyai pemikiran kritis, demokratis, dan kontruktif harus mampu membuat suatu trobosan-trobosan baru sebagai agent of preserver seni budaya.

Khususnya mahasiswa Islam harus mampu memajukan dan mengembangkan kesenian dan budaya Islam warisan leluhur yang telah berkembang tanpa menghilangkan nilai-nilai estetika ke-Islaman. Apalagi dalam keadaan pandami Covid 19 mahasiswa harus bisa memberiakan solusi terhadap perkembangan  seni dan budaya agar tetap berjalan agar tidak lenyap seketika.

****

[1] Timbul Haryono. Sumbangan Budaya Islam Dalam Pelestarian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Tradisional Di Jawa. Jurnal Kajian Islam Vol. 04, No. 01, November 2017: 1-11.

[2] Mahasiswa Itu Be a Warrior Not a Worrier. Kumparan edisi 17 Agustus 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar