Pendahuluan
Sebelum
kedatangan kebudayaan Islam di Nusantara, kebudayaan Indonesia dalam masa
pengaruh kebudayaan Hindu-Budha selama hampir 1000 tahun dan sering disebut
dengan istilah kebudayaan klasik. Kemudian dengan kedatangan Islam di Nusantra
menjadikan kebudayaan
sebelumnya luntur karena ada akulturasi budaya Hindu-Budha dengan Islam.[1]
Kedatangan
seni dan budaya Islam merupakan suatu
tradisi yang sudah berkembang di masyarakat
Indonesia dari awal Islam masuk ke Nusantara. Awal masuknya Islam ke Nusantara, kesenian dijadikan sebagai alat dakwah bagi
para mubalig dalam mensyiarkan agama Islam. Kesenian dirasa cocok sebagai alat
dakwah karena dahulu masyarakat Nusantara sangat menyukai kesenian. Oleh karena
itu, para mubalig berinisiatif menjadikan kesenian sebagai alat dakwah untuk
menarik simpati masyarakat agar mau mengenal Islam. Misalnya para Walisongo yang banyak
mengunakan kesenian dalam dakwahnya.
Walisongo
banyak mengubah atau mengakulturasi budaya dan kesenian lokal yang sudah
berkembang di masyarakat Nusantara. Hal ini dilakukan dengan cara memberi dan
memasukan nilai-nilai Islam dalam seni dan budaya lokal, sehingga
diharapkan masyarakat mampu mengenal dan memahami Islam lebih mudah.
Kebanyakan kesenian Islam yang muncul pada waktu (itu -ed) dan masih berkembang
sampai saat ini merupakan akultusrasi dengan kesenian dan budaya Hindhu dan Budha. Hal itu
dikarenakan kebudayaan Hindhu Budha lebih awal ke Nusantara dari pada Islam.
Kemudian, dari situ terciptalah
banyak kesenian dan budaya Islam yang masih berkembang sampai saat ini. Seperti gamelan Jawa, rabana, kaligrafi,
sastra, tari, dan lain sebagainya. Banyaknya kesenian Islam yang ada di
Indonesia, sebagai bangsa Indonesia kita selayaknya harus menjaga dan melestarikan
kesenian dan budaya Islam sebagai warisan nenek moyang agar tidak luntur dan
tergerus oleh globalisasi zaman. Maka
dari itu perlu banyak pihak untuk terlibat dalam melestarikan dan merawat seni-budaya Islam, salah satunya mahasiswa.
Mahasiswa Muslim Sebagai Agent of Preserver Seni-Budaya Islam Lokal
di
Era Globalisasi
Berbicara (mengenai -ed) mahasiswa, pasti kita tidak terlepas dari pola
pikirnya yang dianggap kritis terhadap suatu masalah yang terjadi disekitarnya.
Mahasiswa dianggap sebagai kaum intelektual yang bisa merubah suatu tatanan
sosial dan pemerintahan melalui pemikirannya. Di sisi
lain, mahasiswa juga
diharapkan dapat menjaga identitas bangsa melalui nasionalisme. Caranya dengan menjaga budaya dan tradisi bangsa
Indonesia agar tidak tergerus oleh globalisasi.
Pada era globalisasi sekarang, seni budaya Islam yang
berkembang di masyarakat hampir luntur dan tergerus zaman, terutama seni budaya Islam. Peran mahasiswa
khususnya mahasiswa Muslim sangatlah penting dalam membangun dan mempertahankan
kebudayaan bangsa Indonesia,
terutama kebudayaan Islam, untuk memajukan kebudayaan Islam. Mahasiswa
merupakan bagian besar dari kebudayaan itu sendiri. Maka dari itu, sebagai
mahasiswa hendakanya mampu membumikan
kebudayaan sampai ke kancah internasional.
Generasi muda, tidak lain mahasiswa, dituntut untuk memenuhi tugas dan
tanggung jawabnya untuk berperan
aktif dalam menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa tersebut. Kaum muda
harus jadi part of solution, bukan part of problem. Berbasis semangat
nasionalisme, pemuda harus bertindak memberikan solusi dari berbagai
permasalahan kebangsaan di negeri ini,[2] terutama dalam
permasalahan seni dan budaya.
Tetapi, berbicara realita sekarang, masih banyak kekurangan peran mahasiswa
terhadap pelestarian seni budaya lokal
sendiri, terutama mahasiswa muslim dalam melestarikan seni budaya Islam. Hal
ini dikarenakan kebanyakan mahasiswa masih menjadikan kuliah sebagai ajang
untuk bersenang-senang,
bukan sebagai ajang untuk mengoptimalkan kemampuan intelektual dan pengembangan
diri.
Kemudian,
mahasiswa hanya terpaku pada cita-cita, belajar yang baik, dapat gelar cum laude, lulus cepat
dengan segudang prestasi akademik tanpa
dibarengi pengalaman lapangan, lalu cari kerja, nikah, punya anak, dan ingin
kaya sehingga kala tua bisa menikmati hidup dengan nyaman tampa ganguan. Itu
semua merupakan bentuk orientasi
pemikiran yang egosentris.
Seni budaya merupakan suatu yang
paling rentan terkena dampak negatif globalisasi. Bentuk informasi dan sarana
yang dapat diterima dengan bebas,
tanpa batasan ruang
dan waktu,
bisa mempegaruhi pola bertindak dan berfikir mahasiswa. Sebagai mahasiswa yang
menyandang (predikat -ed) kaum
berpendidikan yang dianggap mempunyai pemikiran kritis, demokratis, dan
kontruktif harus mampu membuat suatu trobosan-trobosan baru sebagai agent of preserver seni budaya.
Khususnya mahasiswa Islam harus mampu
memajukan dan mengembangkan kesenian dan budaya Islam warisan leluhur yang
telah berkembang tanpa
menghilangkan nilai-nilai estetika ke-Islaman. Apalagi dalam keadaan pandami
Covid 19 mahasiswa harus bisa memberiakan solusi terhadap perkembangan seni dan budaya agar tetap berjalan agar tidak
lenyap seketika.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar